Jambu itu ternyata… Nasrudin el-Andalasy “Bug …!!!!” Sebuah jambu masak dan jatuh di depan ndalem [1] . Suerr!!!, ini bukan jambu siluman atau yang dipaksa untuk jatuh oleh ulat-ulat kelaparan. Tampaknya dan yang pasti tak ada yang ganjil. Cuma, malam ini terasa terlalu dingin untuk ukuran pondok pesantren yang terletak di dataran rendah, di tengah-tengah persawahan lagi. Angin malam mengecup dedaunan yang mendesah. Entah setan mana yang mencoba menggoda kami. Entah dari mana ide itu begitu saja hadir dan mengisi otak kami. Eh, keimanan kami ternyata diuji dengan beberapa ekor kelelawar yang berkelebat diatas kepala kami sambil mencumbui jambu-jambu itu. “ Kang, mubadzir jambune”, kang Kamid memulai. “Iyo.. yo .. adem-adem koyo ngene lumayan ono seng rodo seger” kang Udin mengomentari. “ Bener, jaga malam kog yang ada cuma kopi dan sebatang rokok ,itu pun buat joinan [2] kita berdua ” “ Lantas ?..” “ Gimana kalau kita ambil jambu beberapa biji saja? “ “ Jangan lah, kang. dosa itu na...