Lek Syapingi beserta anak, menantu, dan cucunya. Pulang dari makam Pekutan hari sudah lumayan gelap. Jalanan di kebun tambah gelap karena rindangnya pohon kelapa menutup sisa sinar matahari yang tersisa. Sampai di rumah Lek Syapingi saya langsung diajak salat Maghrib. Di halaman rumah banyak anak usia SD yang bermain. Ada beberapa yang sedang mengambil air wudhu di keran yang ada di samping rumah. Saya kira mereka adalah anak-anak dan keponakan Lek Syapingi. Tapi kok ada banyak? Ketika saya masuk ke ruang tamu, seorang anak mengumandangkan azan dan pujian. Lima menit kemudian ia mengumandangkan iqamat. Lek Syapingi meminta saya jadi imam, tapi saya menolak. "Sohibul bait lebih utama, Lek. Hehe..." * * * Seusai salat dan wiridan, beberapa anak mendaras al-Quran dan Juz Amma. Mereka sorogan kepada Lek Syapingi yang telaten menyimak dan mengoreksi bacaan. Rupanya di rumah ini ada anak-anak yang turut mengaji dan diajari oleh...
saat lisan tak lagi abadi