Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ruang

Surat untuk Faruq, Anakku Sayang...

Untuk anakku, Faruq. Selamat beranjak dewasa, Anakku.  Faruq, ayah menulis surat ini beberapa hari setelah mengantarkanmu ke Dokter Rudi, yang mengkhitanmu. * * *  Hmm...  Kayaknya baru kemarin pagi, membacakan azan dan mengumandangkan iqamat di kedua telingamu. Kayaknya baru kemarin pagi, mengantarkanmu mengenakan seragam merah putih yang kedodoran. Kayaknya baru kemarin pagi, mengantarkanmu ke pondok untuk ikut mengaji sambil malu-malu kucing. Ah.... waktu begitu cepat.  Tak terasa kini kamu sudah beranjak dewasa. Dan kini sudah menjalani salah satu sunah nabimu, sunah penghulu nabi-nabimu, berkhitan.  * * *  Faruq anakku, ayah tak tahu kapan engkau akan membaca surat ini, tapi ayah berharap engkau berkesemaptan membacanya beberapa saat nanti, dan kembali membacanya kelak, saat engkau sudah benar-benar dewasa. * * *  Faruq anakku, setelah dikhitan, engkau kini bukanlah engkau yang kemarin.  Khitan adalah batas antara kanak-kanak dan kedewasaan. ...

MONJALI (Monumen Ngeblog Kembali)

Sudah lama blog ini tidak disentuh dan dibersihkan. Ibarat rumah, dua tahun sudah ia tak terjamah, ditinggal penghuninya entah kelayapan ke mana. Hehe... Tapi ya tak masalah. Sekarang penghuninya sudah kembali. Segera ia ambil sapu bersihkan debu dan sarang laba-laba yang bergelantungan di sana-sini; bersihkan dedaunan yang berserak di halaman; memangkas rumput-rumput liar. Dalam sejarahnya, blog ini adalah blog pertama yang saya buat. Bisa dilihat dalam catatan arsip, kali pertama blog ini mengudara pada tahun 2005, masa awal ketika saya kuliah S1 dulu di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. Kini kampus ini sudah menjadi UIN Walisongo. Awalnya blog ini digunakan untuk senang-senang belaka. Banyak teman punya blog, saya pun ikutan bikin. Url blog yang pertama kali saya gunakan adalah nasrudincakep.blogspot.com. Agak narsis ya? Begitulah anak muda. Pembelaan saya dulu adalah kata cakep di sini tak semata soal fisik tetapi lebih pada soal kecakapan atau kemampuan. Blog in...

Dakwah dan Budaya Pop

Membincang dunia dakwah kontemporer tak akan pernah sempurna tanpa kita membincang kelindan ideologi dan pergulatan identitas dalam kebudayaan mutakhir di Indonesia. Dalam lanskap modernitas dan bahkan post-modernisme, kebudayaan Indonesia beberapa dekade belakangan ini tak bisa dilepaskan dari budaya populer. Dalam pandangan seperti ini, membincang dakwah tak akan lengkap tanpa membincang kaitannya dengan budaya populer. Budaya populer yang dibahas dalam tulisan ini hanya akan dikerucutkan dalam pemaknaan bahwa budaya tersebut diproduksi secara massal oleh industri untuk dikonsumsi secara massal juga oleh masyarakat. Dalam konsumsi ini, dibutuhkan media yang digunakan untuk menyajikan produk budaya kepada konsumen. Sehingga, pembahasaan kali ini tentu akan fokus pada objek media massa dalam sikapnya terkait agenda dakwah Islam, dan juga program acara mereka. Logika Media Televisi nyaris tak bisa dilepaskan dari masyarakat kita. Kotak bercahaya itu seakan jauh lebih akrab dengan kit...

Ijtihad Fikih Poskolonial (2)

Medan bahasa Pada penggalan tulisan bagian pertama, kita bisa membaca dengan jelas kutipan manuskrip Tabyin al-Islah , sebuah kitab yang ditulis Kyai Rifa'i Kalisalak. Ada empat terma yang penulis sengaja membubuhinya dengan garis bawah: alim fasik, penghulu, kefasikan, dan pe[me]rintahan. Keempat titik ini memainkan peran teramat penting dalam medan perang bahasa dan diskursus, waktu itu. Ihwal ini, kita tiada bisa menceraikan dari hegemoni dan dominasi negara asing (baca: kolonial) atas Nusantara. Baik secara fisik dengan barisan tentara dan dentuman meriam serta senapan; pengetahuan dengan penguasaan wacana; politik dengan penaklukan raja-raja kecil; dan bahkan pengetahuan agama dengan hadirnya sistem Kapengulon besera seperangkat penghulu yang mengitarinya. Kesemua itu menjadikan pola relasi kolonial dengan (pribumi) Nusantara menjadi benar-benar timpang, tak berimbang. Kolonial meminjam tangan para penguasa lokal, mulai dari Bupati dan ajudannya, hingga kepala des...

Ijtihad Fikih Poskolonial (1)

Akeh alim fasik niru saiki zaman/ podo dadi penghulu maha kedosan// Buru artha haram duniane kaluhuran/ ikulah kena fitnah dunia kefasikan // Tan ngistuaken ing syara’ pinuturan/ setengahe tan asih ridho ing pe[me]rintahan // (KH. Ahmad Rifa'i Kalisalak, Manuskrip Tabyin al-Islah: 179-180) GERAKAN PROTES. Inilah yang dilancarkan Kyai Rifa'i, Pahlawan Nasional yang menyulut dan mengobarkan perlawanan pada 1850-an di dusun Kalisalak di pelosok Alas Roban, (kini, Kec. Limpung, Kab Batang, Jawa Tengah). Yang ia hadapi bukanlah seorang tiran, dengan pedang terhunus, melainkan sistem: sistem Kolonial yang juga mencipta Kapengulon. Keduanya berkelit kelindan pada sebuah hasrat hegemoni atas jiwa dan kekayaan Nusantara yang (masih) jadi primadona dunia, utamanya bagi Eropa. Sistem kolonial menghadirkan tatanan dunia pemerintahan baru atas bangsa kulit berwarna. Di balik sana, kuku-kuku panjang tajamnya meruncing, merenggut siapapun yang memekikkan “Jangan!!”, “...

Berebut Ruang di Galeri

“Demi kenyamanan, kami menggunakan sistem shift untuk pengunjung Jogja Gallery”, begitu yang disampaikan oleh seorang perempuan melalui pengeras suara, sesaat setelah pameran resmi dibuka. Benar saja, pengunjung galeri malam itu membludak, Berdasar perhitungan kasar penulis, mencapai lebih dari 200 orang. Penulis, lewat tulisan ini tidak bermaksud membahas konten pameran Anang Asmara yang menampilkan proses rekonstruksi akan sepenggal budaya berpakaian ala Jawa: batik ke dalam media kanvas. Di sisi lain, penulis merasa perlu memotret sisi lain dari sebuah galeri: para pengunjung yang mulai menyemut di pintu masuk. Benar saja. Beberapa pengunjung berjalan gesit, memotong jalan melompati beberapa kursi yang sudah kosong. Ia segera masuk pintu. Yang saya tahu, ia adalah wartawan sebuah majalah yang terbit di Solo. Ia segera masuk dan dari dalam, ia mengabadikan momen ketika beberapa orang memasuki pintu. Beberapa fotografer lepas dari Kantor Berita Antara dan beberapa media massa mel...

menulis tanpa ide

Ide baru. Di sinilah titik pertaruhan sebuah tulisan oleh penulis. Menjadi kian menarik, tatkala ide itu menggigit dan unik. Lalu jika tiada ide, saya akan menulis apa? Saya berhenti di sini kala hendak menulis halaman ini. Saya kebingungan, benar-benar tidak ada ide baru yang hendak penulis bagikan kepada pembaca tentang dunia menulis. Saya membaca-baca arsip FHK. Ah! (Hampir) semua ide tentang menulis sudah dituliskan para penulis terdahulu di rubrik FHK ini. Lama merenung, sampai akhirnya saya tersadar. Selama ini, saya terlalu fokus pada sosok “ide”. Inilah yang justru membelenggu kreatifitas saya selaku kreator. Padahal, seharusnya tidak demikian. Saya bisa menuliskan apapun, bahkan saat tidak ada ide baru sekalipun. Keterbelengguan ini memuncak tatkala kita hanya terfokus pada apa yang kita sebut sebagai ide baru. Saya kemudian mencari-cari di pelbagai bacaan tentang bagaimana mengasah keterampilan menulis. Saya tidak menemukan hal yang benar-benar baru dan fresh . Yang...